Bumi Rancaekek Kencana

Stasiun KA Rancaekek
Sejak akad kredit di notaris ditandatangani aku mulai memantau “rumah baruku”. Suatu hari bersama Istri aku ke Rancaekek menggunakan kereta api ekonomi. Aku tertegun melihat situasi di sana, rasanya seperti terlempar ke masa lalu. Stasiun dengan bangunan tua buatan Belanda terletak di tengah hamparan pesawahan sejauh mata memandang. Tidak jauh dari Rel Kereta api itulah rumah impianku nantinya. Proyek pembangunan sedang berlangsung, akupun belum tahu di mana persisnya rumahku nanti tapi yang jelas di komplek Rancaekek Kencana. Beberapa waktu kemudian perumahan itupun selesai dibangun secara bertahap. Aku sudah bisa mengenali rumah baruku, sebuah rumah T 21/90 cult de sac sekitar 50 cm lebih tinggi dari jalan, dan belum dialiri listrik. Tepatnya di Jalan Tulip XI nomor 58 Blok 4 Bumi Rancaekek Kencana. Beberapa kali kami mengunjungi rumah itu sebelum benar-benar pindah. Stasiun Hall Perjalanan ke Rancaekek dari stasiun Hall Bandung memang seperti travelling, karena sepanjang perjalanan kita bisa melihat padatnya pemukiman di kota dan kemudian hamparan pesawahan di kiri kanan jalan selepas stasiun Kiaracondong. Sepanjang perjalanan beragam ditawarkan para pedagang asongan, mulai dari tahu, es, jeruk, telur puyuh, apel malang, salak, dan lain-lain. Sambil makan kudapan kita tak henti-hentinya dihibur musik dangdut hingga alunan suara suling dari para pengamen. Pengemis pun ikut mendoakan agar kita selamat di perjalanan. kita bisa bermurah hati memberi mereka uang receh, jika tidak maka mereka akan ngeloyor pergi ke gerbong lainnya tanpa memaki.
Saat saya ikut Kakak Ipar di Cijerah tepatnya Perumahan  Pharmindo berakhir, kamipun pindah dengan menggunakan sebuah truk pengangkut barang. Kakak ipar kami tidak ikut serta dan di temani  Istriku. Ketika memasuki pintu gerbang perumahan mereka terkagum-kagum karena indahnya pemandangan. Jalan raya dan trotoar terbuat dari paving block, di kiri kanannya pohon-pohon palm raja dan lampu-lampu taman berbentuk bola-bola transparan yang disangga besi berbentuk trisula. Memang benar kalau dikatakan itulah komplek Perumnas terbaik yang pernah dibangun. (beberapa menteri dari negara asing pernah berkunjung seperti dari Cina dan Suriname. Beberapa media nasional dan lokal pun membuat feature tentang perumahaan itu). Di rumah kami yang asri
Rumah baru kami adalah sebuah rumah sederhana berbentuk kopel berdinding batako tanpa plester. Kamar tidurnya hanya satu buah. Ada ruang tamu kecil, kamar makan dan dapur kecil yang menyambung ke kamar mandi. Meski belum ada aliran listrik dan air leiding kami menganggapnya seperti hotel bintang empat. Rumah di kiri kanan dan depan belakang kami

kebanyakan masih kosong, hanya ada dua atau tiga rumah yang sudah dihuni. Merekalah tetangga kami yang pertama: pak Aceng, pak Otri dan di jajaran lain pak Juji, pak Hermana, Pak Ganjar. Jika malam hari datang kami memasang pelita dengan bahan bakar minyak tanah. Rasanya seperti sedang berkemah. Baru beberapa bulan kalau ga salah sudah 3 bulan kemudian saya mengusulkan listrik ke PLN. sampai di rumah kami, karena air leiding dari PDAM baru mengalir beberapa bulan kemudian. Untuk transportasi kami menggunakan kereta api ke kota. Pukul 5.30 aku harus sudah di stasiun. Kadangkala kereta api datang lebih dulu, akupun berlari-lari sepanjang rel mengejarnya. Mengasikkan sekali.

 

 

One comment

  1. jadi kangen sama rancaekek.
    saya dulu tinggal di blok 14, jalan anyelir 2🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: